Selayang Pandang


 

Luas wilayah Desa Pademonegoro dengan luas wilayah 106.08 Ha. Desa Pademonegoro terdiri dari tiga dusun yaitu: Dusun Bogi, Dusun Pademo dan Dusun Negoro. Perangkat Desa menurut jenis jabatannya di Desa Pademonegoro terdiri dari 1 Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kasi Pemerintahan, Kasi Pelayanan, Kasi Kesejahteraan rakyat, Kaur Tata Usaha dan Umum, Kaur Perencanaan dan 3 Kepala Dusun. Desa Pademonegoro terdiri dari 3 Rukun Warga (RW) dan 16 Rukun Tangga (RT).

Sejarah Desa

Konon jaman dulu ada beberapa musafir yang singgah di suatu daerah yang alamnya masih tergolong mempunyai kekuatan ghaib, jadi tidak semua orang dapat menjamak atau menyentuh. Dari beberapa musafir tidak dapat diketahui asal-usul dari mana ia datang “demikian tutur sesepuh Dusun Bogi Bpk. Suparman”, ada empat musyafir yang datang di Desa Pademonegoro yang sekarang telah menjadi pepunden atau pesarehan yang sekarang berada di RT. 4 RW.1 yaitu makam Mbah Shoda.

Dari keempat orang tersebut tempat pemakamannya berbeda-beda. Seperti makam Mbah Anggrang Kusumo berada di pedukuhan Pademo. Kenapa daerah ini dinamakan dusun “Pletik”, karena daerah ini seperti pulau kecil yang hanya dikelilingi sawah seakan-akan di daerah ini tertutup atau terkunci tak seorang pun dapat masuk kedaerah ini kecuali Mbah Angagrang Kusumo “Setiap orang yang masuk tanpa dibekali ilmu yang cukup kedekdayaannya pasti akan meninggal, hal ini tidak diketahui apa penyebabnya, mungkin diserang oleh penghuni makhluk-makhluk halus, sehingga daerah ini dinamakan Negoro”,”tutur mbah Kamid” sesepuh yang ada di dusun Negoro.

Daerah Pademo ini memang menjadi rebutan para musyafir dalam mbabat semak-semak dan pepohonan untuk dijadikan pemukiman, terjadi saling mengklaim atau dalam bahasa jawanya “mengela” wilayah yang menjadi haknya masing-masing. Antara Mbah Shoda, Mbah Pletik, dan Mbah Anggrang Kusumo saling bersih tegang mempertahankan daerahnya masing-masing sehingga ketiganya hampir terjadi perkelahian adu kesaktian, untung pada saat itu datang musyafir yang lain yaitu Mbah Sodha. Mbah Sodha ini yang dapat menyelesaikan masalah dengan kecerdikan dan kepandaiaannya, akhirnya ketiga orang tersebut saling menyadari dan memaafkan satu sama lain, dan oleh Mbah Sodha daerah yang menjadi sengketa ini dinamai daerah “Pademo” akibat terjadinya saling mengela, Mbah Sodha sendiri kerap dipanggil buyut Sodha, ia mendapatkan sebelah timur dusun Pademo yang sekarang disebut dusun “Bogi” artinya wilayah yang menjadi hak Mbah Sodha atas jasanya dalam menyelesaikan masalah/perkara. Sekarang makam Mbah Sodha terletak di desa Pademonegoro yang makamnya di utara Sekolah Dasar Negri Pademonegoro, oleh karena itu penduduk setempat menamakannya “Mbah Sodha”.

© 2018 Desa Pademonegoro - Kecamatan Sukodono,